Perjuangan Abie Abdillah Bergelut di Bisnis Desain Rotan

Kekayaan ragam rotan di Nusantara telah menjadi ketertarikan tersendiri bagi Abie Abdillah. Penerima penghargaan desain di banyak ajang internasional itu punya ambisi besar untuk mengangkat derajat rotan Indonesia, hingga bisa terkenal di kancah internasional. Bagaimana tidak. Abie menceritakan, sekitar 80% kebutuhan material rotan dunia disokong dari Indonesia. Itu pun dari sekitar 600 spesies, baru 8% yang dimanfaatkan menjadi komoditas komersial. “Jadi masih besar potensinya,” ujarnya.



Abie AbdillahIndustri rotan sendiri, ia menuturkan, sempat mengalami stagnasi. Salah satu penyebabnya, kurangnya perkembangan desain material rotan dalam beberapa dekade terakhir. Maka tak heran, ia kemudian menekuni benar desain rotan. Ia ingin menciptakan desain mebel berbahan rotan dengan nuansa modern kontemporer yang disesuaikan dengan selera pasar.





Ia punya mimpi membuat rotan sebagai indentitas material bangsa layaknya seperti Tiongkok, yang terkenal sebagai Negeri Tirai Bambu. Jadi, semacam national branding lewat unsur material, memperkenalkan Indonesia tidak hanya lewat budaya, tetapi bisa pula lewat rotan. “Saya ingin rotan Indonesia berkelas dan bermartabat.Skill perajin di Indonesia merupakan yang tercanggih di dunia untuk rotan dan ukir,” ujar pria lulusan Jurusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung ini.



Sejak masih kuliah ia sudah menggali pengetahuan seputar rotan. Abie bahkan sempat mendatangi perusahaan PMA asal Jepang, Yamakawa, di Cirebon. Saat itu dia merasa beruntung diberi kesempatan berbincang denganpemiliknya, Yuzuru Yamakawa.Ada satu kalimat dia yang selalu saya kenang, ‘desainer Indonesia kalau mau dikenal dunia jadilah desainer rotan’,’’ ujarnya menceritakan. Berbekal nasihat itulah, akhirnya terbesit dalam benaknya membuka bisnis studio desain yang punya kekhususan produk rotan bernama Studio Hiji. Studio itu, ia merintisnya sejak tahun 2009, tetapi baru diseriusi tahun ini.



Tak hanya menawarkan jasa desain, Studio Hiji juga masuk ke hulu dengan menjual produk hasil desainnya sendiri. Meski saat ini dari sisi omset belumlah terlalu besar, berkisar Rp 30-40 juta per bulan, ia percaya potensi Studio Hiji bisa besar ke depan.



Berbagai strategi telah ia persiapkan, termasuk pemilihan pasar yang dikhususkan bagi arsitek, kontraktor dan desainer interior. Harapannya, agar timbul pesanan untuk hotel, restoran dan kafe. “Untuk produksi sendiri, saat ini kami belum punya tempat produksi sendiri. Kami ada empat mitra produksi untuk rotan, dan dua mitra produksi untuk kayu,” katanya menjelaskan.



Sekarang setidaknya sudah beberapa produk yang berhasil diekspor, dengan komposisi 80% untuk pasar lokal dan 20% pasar ekspor. Perjuangan Studio Hiji untuk bisa mengekspor, ia mengisahkan, tidak mudah alias sempat berdarah-darah lantaran harus mencari calon pembeli di pameran internasional, seperti di Singapura. “Kadang jika saya memaksa ikut pameran, saya keluar uang puluhan juta tapi ketika pulang tidak ada buyer yang beli. Pada saat 1-3 tahun awal masih sangat struggle,” ungkapnya.



Keluar uang puluhan juta untuk pameran tersebut tidaklah mudah, karena sejak memutuskan untuk fokus di Studio Hiji dan resign dari sebuah perusahaan di tahun 2012, otomatis Abie tidak punya pendapatan tetap. “Saya sempat stres, yang tadinya punya penghasilan tetap per bulan, jadi tidak ada. Lalu, jika ada produksi yang tidak sesuai dengan ekspektasi, harus ditalangi untuk produksi lagi,” ia menambahkan.



Namun, kegigihannya untuk terus berjuang tidak sia-sia. Saat ini, Studio Hiji telah punya satu distributor untuk Asia Tenggara yang berbasis di Singapura, yaitu The Common Goods, dimiliki oleh Tommy Huang dan Angeline Tn. Pertemuan Abie dan Angeline bermula ketika ia mulai mengikuti pameran di Singapura secara rutin. “Tahun 2013 Angeline ingin memiliki bisnis sendiri. Mereka meminta izin untuk menjadi partner distribusi saya, sehingga di tahun 2014 kami tanda tangan kontrak dan mereka jadi distributor untuk Asia Tenggara,” Abie menerangkan. Lewat distributor inilah, saat ini Studio Hiji telah memiliki klien salah satu restoran di Malaysia.



Ke depan, ia punya target untuk bisa ikut pameran di kota Milan yang merupakan kiblat furnitur. Karakter pembeli lokal, disebutkan Abie, mudah terpengaruh oleh portofolio di luar negeri. “Jika tidak punya nama di luar, tidak akan dilirik. Maka, saya ikut banyak kompetisi dan penghargaan di luar negeri, sehingga cukup membantu dalam pemasaran dan penjualan,” ungkapnya.



Kepiawaian Abie dalam mendesain produk rotan, rupa-rupanya juga memikat hati William Simiadi, Direktur Grup Vivere. Ia menggandeng Abie untuk mendesain rangkaian produk Vivere yang akan diluncurkan bulan Maret mendatang. Vivere dalam hal ini tidak membeli produk Abie, melainkan berkerja sama dalam pengembangan desain produk. “Produk yang akan kami luncurkan seputar furnitur, seperti sofa, accent chair, dining table, coffee table, dan lain-lain,” ujar William.



William melihat Abie sebagai desainer muda berbakat yang punya kemampuan dalam memahami keinginan dan arahan klien. “Ia cukup ahli untuk produk rotan,” ia menegaskan.



Sumber: http://swa.co.id/youngsterinc/startup/perjuangan-abie-abdillah-bergelut-di-bisnis-desain-rotan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.