Ignasius Jonan: “Pemimpin Tidak Boleh Utamakan Egonya”

Siapa orang Indonesia yang tak kenal nama Ignasius Jonan? Ia bahkan kini merupakan salah satu menteri di Kabinet Jokowi yang paling populer.  Reputasinya terutama sekali ketika selama 6 tahun menjabat Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI) mentransformasi BUMN ini dari perusahaan pelat merah yang berantakan menjadi pengelola transportasi berbasis rel yang mampu meraih untung.



Setelah diangkat sebagai Dirut KAI pada 2009 oleh Menneg BUMN Sofyan Djalil,  Jonan berhasil memimpin perusahaan ini sehingga mampu membalikkan kerugian sebesar Rp 83,5 miliar (2008) menjadi untung Rp 154,8 miliar (2009). Bahkan, pada 2013, labanya melonjak menjadi  Rp 560,4 miliar. Selain itu,  aset KAI yang semula tercatat hanya  Rp 5,7 triliun (2008) menjadi Rp 15,2 triliun (2013), atau terjadi peningkatan hampir tiga kali lipat.







Transformasi pada aspek nonfinansialnya pun tak kalah hebat. Di bawah kepemimpinan Jonan, dimulai pemberantasan percaloan tiket, penerapan sistem boarding pass, tiket online, dan penjualan melalui toko ritel. Armada kereta juga dilengkapi AC dan diterapkan larangan masuknya para pedagang dan pengamen ke dalam kereta, dan tentu saja larangan merokok. Disiplin pun dijalankan dengan tegas.  Tahun 2014, tercatat 200 karyawan KAI dipecat atau pensiun dini karena dianggap malas. Ia juga tidak mengenal kompromi saat menertibkan stasiun dari pedagang dan bangunan liar, dengan memanfaatkan bantuan aparat TNI.



Oleh Dahlan Iskan yang kala itu sebagai Menneg BUMN, ia diangkat kembali sebagai Dirut KAI pada 2013.  Namun, pada Oktober 2014 Presiden Joko Widodo memasukkan sebagai salah satu anggota Kabinet Kerja dengan menduduki posisi sebagai Menteri Perhubungan.



Sebelum menjabat Dirut KAI dan menjadi menteri,  pria kelahiran Singapura 21 Juni 1963 ini sudah malang melintang di berbagai perusahaan.  Ia pernah  berkarier di divisi keuangan Grup Dharmala. Pada periode 1999-2001, ia masuk Citibank dengan posisi direktur. Karena pengalamannya di bidang finansial ini pula, ia ditarik pemerintah untuk mengisi posisi sebagai Dirut PT Bahana  Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) pada 2001-2006.  Dari situ, ia meloncat ke Citibank sebagai direktur pengelola, hingga kemudian ditarik Menteri Sofyan sebagai Dirut KAI.

Ignasius, Menteri Perhubungan, peraih penghargaan The Best CEO 2014 dari Majalah SWA, Dunamis dan Ipsos

Ignasius, Menteri Perhubungan, peraih penghargaan The Best CEO 2014 dari Majalah SWA, Dunamis dan Ipsos







Dalam sebuah forum kepemimpinan, Jonan pernah menyatakan bahwa “Leadership is a half talent, a half journey.”  SWA sendiri menilainya sebagai salah seorang pemimpin yang layak disebutkan sebagai salah satu pemimpin otentik di Tanah Air.  Kepada wartawan SWA Herning Banirestu yang mencegatnya setelah memberikan keynote speech dalam acara International Services Summit 2016 dan 10th Sadli Lecture di Hotel Borobudur, ia berujar  bahwa seorang pemimpin otentik harus siap punya banyak musuh. Namun, ia meluruskan lebih lanjut, “Authentic leader adalah pemimpin yang berusaha memimpin dengan realitas.  Tapi, kalau ada yang tidak suka dengan realitas tidak apa, hidup ini kan bebas saja.”



Berikut petikan wawancara khusus SWA dengan sang Menteri Perhubungan ini di ruang kerjanya:



Menurut Anda,  apa sih seorang authentic leader itu?



Seorang authentic leader adalah pemimpin yang tetap menjadi dirinya sendiri, walau di sekitarnya tidak mendukung. Dia tidak menjadi orang lain. Dan setiap pemimpin diuji saat krisis. Apa pun bentuknya, apakah kekurangan organisasi dengan personel yang kurang mendukung, dihadapkan pada suatu masalah hukum, kondisi makro yang kurang mendukung dan sebagainya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa mengatasi ujian di saat krisis.



Bagaimana sebaiknya dalam menghadapi ujian krisis?



Dalam menghadapi ujian krisis yang kadang pendek dan kadang panjang, pemimpin otentik tidak boleh cepat menyerah.  Harus diingat,  orang yang jadi pemimpin itu orang yang dikorbankan. Ia dikorbankan oleh keadaan, maka dia harus  tabah. Kalau tidak bisa menjadi diri sendiri, seorang pemimpin yang berhadapan dengan krisis tidak akan bisa melewatinya. Dan jadi pemimpin tidak boleh baper (membawa ke perasaan – Red.)



Apa yang menyebabkan Anda berbeda dari kebanyakan pemimpin lainnya?



Saya  tidak merasa diri saya berbeda dari leader yang lain.  Kalau soal gaya atau style itu memang sudah gaya saya.   Ibu saya sampai meninggal pun tidak bisa mengubah gaya saya. Style atau karakter menurutnya dibentuk oleh perjalanan hidup. Semua leader, apakah memiliki sifat otentik atau tidak, harus mencapai goal atau target mereka. Gaya kepemimpinannya macam-macam. Saya sendiri straight forward, tidak biasa muter-muter. Dari muda saya tidak bisa gaya muter-muter.  Saya kan  tidak bisa merayu hahaha …



Apa resep Anda sehingga bisa mentransformasi KAI?



Kunci keberhasilan saya mentransformasi KAI menjadi perusahaan layanan publik yang jauh lebih baik saat ini adalah memberikan contoh  atau walk the talk.  Kalau seorang pemimpin memiliki kompetensi, efisiensi, kemampuan, latar belakang, dukun

Ignasius Jonan

Ignasius Jonan







sama orang-orang yang saya pimpin. Tinggal bersama, maksudnya, saya benar-benar masuk ke dalam organisasi ini. Saya mengenal personel KAI, kenal satu per satu, siapa si A dan  apa kemampuannya. Sebab, moral support itu penting.  Saya  rutin hadir di stasiun. Bukan saja saat  ramai, tapi setiap saat. Misalnya ketika ada kereta anjlok, saya menampik saran anak buah saya bahwa biar tim yang urus. Bahkan hingga kini (setelah menjabat Menhub),  saya suka diam-diam ke stasiun, tidak ada pengawalan, pakai sopir pribadi, bahkan menyamar pakai topi supaya tidak dikenali. Bukan saya tidak percaya pada manajemen sekarang, tapi karena kelekatan saya dengan KAI.



Dalam posisi sekarang ini, ketika akan ada peresmian pelabuhan di Wasior, kalau saya mau gampang, biar disiapkan anak-anak, saya bisa ikut rombongan Presiden. Tapi tidak, saya datang ke sana lebih dulu bersama anak buah karena pimpinan saya akan datang. Ini perwujudan sebagai pembantu Presiden, saya menghormati beliau.



Lantas, bagaimana cara Anda bila menghadapi hal sensitif?



Pemimpin harus bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah. Karena itu, gunakan akal sehat. Kalau debat dan ribut segala macam itu dinamika.  Saya bukan orang yang suka bicara di belakang.  Jika perlu marah pada anak buah itu saya lakukan, tapi harus dalam porsi yang tepat.   Sebenarnya apa yang saya lakukan itu bukan marah, tapi menunjukkan ekspresi apa yang saya mau tapi tidak tersampaikan dengan baik. Apa yang seharusnya dilaksanakan tapi tidak dilaksanakan,  atau yang seharusnya bisa dilaksanakan lebih baik,  tapi nyatanya tidak.



Bagaimana Anda menanggapi rumor reshuffle kabinet belakangan ini, termasuk untuk posisi Anda?



Setiap zaman terjadi perubahan dan setiap pemimpin itu hadir pada zamannya. Kalau saya ditanya apakah menteri sebelum saya hebat, saya jawab hebat pada zamannya saat itu. Pemimpin tidak bisa melawan zaman. Yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan dengan zamannya  sesempurna yang bisa dia lakukan.



Saya  tidak pernah resah ketika ada rumor reshuffle kabinet. Jika saya  diganti oleh Presiden, artinya saya  sudah tidak tepat dengan zamannya dan Presiden sudah menemukan orang yang lebih tepat daripada saya di bidang perhubungan. Kalau Presiden sudah ketemu yang lebih tepat ya saya harus diganti.  Ini bukan salah saya, juga bukan salah Presiden.  Karena itulah, saya sering bilang,   pemimpin tidak boleh mengutamakan egonya dalam tugas yang diemban, yang penting goal-nya apa.



Apa  sih  posisi yang Anda inginkan?



Saya merasa, di KAI bisa (memimpin), di lembaga (Kemenhub) ini juga bisa, mungkin jadi menteri lain juga bisa. Tapi amanah kan tidak boleh dicita-citakan, tinggal diemban dan dilaksanakan. Yang kerap mendisrupsi pemimpin itu karena terbawa ego. Karena itu, egonya harus dilawan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.